Bupati Termuda Pilkada Dharmasraya

PDIP Usung Calon Bupati Termuda di Pilkada Dharmasraya
Sabtu, 01 Agustus 2015 , 19:19:00 WIB

Laporan: Jefri Hidayat

dharmasraya

RMOL. Apabila menang, Calon Bupati Dharmasraya, Sumatera Barat, Sutan Riska Tuanku Kerajaan akan jadi Bupati termuda Indonesia. Bendahara PDIP itu saat ini berusia 26 tahun.
Saat ini, record tersebut dipegang oleh Bupati Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Yopi Arianto. Pada saat dilantik tahun 2010 lalu, Yopi berusia 30 tahun.
Wakil ketua DPD PDIP Provinsi Sumatera Barat, Pandong Spenra menyebut bahwa usia bukanlah jaminan sesorang itu dewasa.
“Tua itu pasti, dewasa adalah pilihan,” ujar Pandong.
Dia menjelaskan adakalanya pemuda lebih dewasa dari orang yang lebih tua. Saat ini, kata Pandong masyarakat cendrung melihat bakal calon pemimpin dari segi usia. Padahal, umur tidak menjamin seseorang untuk menjadi pemimpin yang baik.
“Pemimpin yang baik bukan ditentukan dari usianya tapi dari sikap dan prilakunya,” kata Pandong.

Untuk Pilkada kali ini, lanjut Pandong, PDIP Dharmasraya memberikan calon pemimpin muda untuk masyarakat yang sudah pasti bersih dari segala hal-hal yang akan mengganggu dalam proses pengambilan kebijakan nantinya.

Selain itu kata Pandong, Dharmasraya akan mencetak sejarah sebagai daerah yang berhasil menelurkan pemimpin muda.
“Mungkin juga ikhtiar kami saat ini akan menjadi sebuah sejarah yang akan menginspirasi Indonesia,” harap penanggungjawab Desk Pilkada PDI Perjuangan Sumatera Barat.
Seperti diketahui, calon bupati termuda Indonesia, Sutan Riska Tuanku Kerajaan akan berpasangan dengan Amrizal Datuak Rajo Medan. Pasangan ini telah mendaftar ke KPUD dengan berbekal mandat dari PDI Perjuangan, Hanura, PKB dan PAN. [sam] http://www.rmol.co/read/2015/08/01/211936/PDIP-Usung-Calon-Bupati-Termuda-di-Pilkada-Dharmasraya-

Daftar Calon Kepala Daerah PDI Perjuangan

SUMUT KOTA MEDAN Drs. Dzulmi Eldin, M.Si. Ir. Akhyar Nasution, M.Si. PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Kesejahteraan dan Persatuan Indonesia, Partai NasDem, Partai Bulan Bintang
KOTA METRO H. AHMAD PAIRIN, S. Sos. H. DJOHAN, S.E., M.M. PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, NASDEM
SULTENG KOTA PALU HJ. Habsa Yanti Ponulele, ST.,M.Si Tamrin H. Samauna, S.Sos NASDEM, PDI Perjuangan, Partai Demokrat
JAWA TIMUR KOTA PASURUAN Drs. H. Setiyono, M.Si Raharto Teno Prasetyo Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partiai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan
JAWA TENGAH KOTA PEKALONGAN H. ACHMAD ALF ARSLAN DJUNAID, SE H. M. SAELANY MACHFUDZ PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa
SUMUT KOTA PEMATANG SIANTAR Wesley Silalahi, SH, M.Kn H. Sailanto PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Kesejahteraan dan Persatuan Indonesia

Daftar Calon Pilkada 2015 PDI PERJUANGAN

Provinsi Kab/Kota CALON Kada CALON WaKa Partai Pendukung
SUMBAR KAB. TANAH DATAR H. NELSON DARWIS, SH DT. TUNGGA BATUAH Drs. MUZWAR. M Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan, PDI Perjuangan
JAMBI KAB. TANJUNG JABUNG BARAT DR.Ir. H.Safrial.MS Drs.H. Amir Sakib PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai NasDem, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera
JAMBI KAB. TANJUNG JABUNG TIMUR Hj. DILLAH HIKMAH SARI, ST GATOT SUMARTO, SH PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, Partai Gerindra
SUMUT KAB. TAPANULI SELATAN H.SYAHRUL M. PASARIBU, SH Ir. H. ASWIN EFENDI SIREGAR, MM Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Persatuan Pembangunan, PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA
JABAR KAB. TASIKMALAYA H. UU RUZHANUL ULUM,SE H. ADE SUGIANTO, S.IP PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera
PAPUA KAB. TELUK BINTUNI Daniel Asmorom, SH, MM Yohanis Manibuy Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Gerindra
PAPUA BARAT KAB. TELUK WONDAMA Drs. ANDARIAS KAYUKATUI, M.Si Dra. FLORA RUMBEKWAN Partai NasDem, PDI Perjuangan
NTT KAB. TIMOR TENGAH UTARA Raymonds Sau Fernandes, SPT Aloysius Kobes, S.Sos PDI Perjuangan
SUMUT KAB. TOBA SAMOSIR Ir. DARWIN SIAGIAN Ir. HULMAN SITORUS, MMA Partai Nasdem, Partai Hati Nurani Rakyat, PDI Perjuangan
SULTENG KAB. TOJO UNA UNA MOHAMMAD LAHAY, SE ADMIN LASIMPALA Partai Nasdem, Partai Demokrat, PDI Perjuangan
KAB. TOLI TOLI Amran H. Yahya Drs. H. Zainal N. Daud PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. TORAJA UTARA DR. KALATIKU PAEMBONAN, M.Si. YOSIA RINTO KADANG, ST. PDI Perjuangan, Partai Gerindra
KAB. TRENGGALEK Dr. Emil Elestianto, M.Sc Mochamad Nur Arifin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, Partai Golkar
JAWA TIMUR KAB. TUBAN H. FATHUL HUDA Ir. H. NOOR NAHAR HUSSEIN, M.Si Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Partai NasDem, Partiai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Hati Nurani Rakyat
SUL TRA KAB. WAKATOBI Haliana, SE Muhammad Syahwal, ST PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa
PAPUA KAB. WAROPEN OLLEN OSTAL DAIMBOA, S.Pd, MM Drs. ZETH TANATI, MM PDI Perjuangan, Partiai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa
LAMPUNG KAB. WAY KANAN H. Bustami Zainudin, S.Pd., MH Adinata PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Kebangkitan Bangsa, NASDEM
KAB. WONOGIRI Joko Sutopo Edy Santosa, SH PDI Perjuangan, NASDEM
JAWA TIMUR KAB. WONOSOBO Dra. Hj. MAYA ROSIDA, M. M EKO PRASETYO HERU WIBOWO, S. H PDI Perjuangan, Partai NasDem
PAPUA KAB. YAHUKIMO ARKELAS ASSO LAPIUS MEREL SOLL, S.IP, M.Si Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Persatuan Pembangunan
PAPUA KAB. YALIMO LUTER WALILO, S.KEP, MM BEAI ADOLF, SE Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Golkar, Partai NasDem
KALIMANTAN SELATAN dr. H.M.ZAIRULLAH AZHAR DR.H.MUHAMMAD SYAFII, M.Si Partai Kebangkitan Bangsa, NASDEM, Partai Demokrat
KALIMANTAN SELATAN H. SAHBIRIN NOOR, S.Sos, MH Drs.H.RUDY RESNAWAN PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat
KALIMANTAN TENGAH DR. Ir. Willy Midel Yoseph, MM Drs. H.M. Wahyudi K. Anwar, MM, MAP PDI Perjuangan
KALIMANTAN UTARA Dr. Ir. H. IRIANTO LAMBRIE, MM H. UDIN HIANGGIO, B.Sc PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, Partai Amanat Nasional
KEPULAUAN RIAU DR. HM. Soerya Respationo, SH. MH Ansar Ahmad, SE. MM Partai Keadilan Sejahtera, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Amanat Nasional, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
KOTA BALIKPAPAN HM. Rizal Effendi, SE Rahmad Mas’ud PDI Perjuangan, NASDEM
KOTA BANDAR LAMPUNG Drs. Herman HN, MM. Muhammad Yusuf Kohar, SE., MM. Partai Gerindra, PDI Perjuangan, NASDEM, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa
KOTA BANJARBARU Joko Triono, SH Ir. Soegeng Soesanto PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional
KOTA BANJARMASIN IBNU SINA, S.Pi HERMANSYAH PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera
KOTA BATAM Ir. H. Ria Saptarika, M.Eng Ir. H. Sulistyana PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional
KOTA BINJAI Juliadi S.Pd, MM Drs. Muhammad Tulen, M.AP PDI Perjuangan, Partiai Amanat Nasional
KOTA BITUNG MAXIMILIAAN JONAS LOMBAN Ir. MAURITS MANTIRI Partai NasDem, PDI Perjuangan
JAWA TIMUR KOTA BLITAR MUH. SAMANHUDI ANWAR Drs.H. SANTOSO., M.Pd PDI Perjuangan
KALTIM KOTA BONTANG Ir. H. Adi Darma, M.Si H. Isro Umarghani, S.IP PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Nasional Demokrat
KOTA BUKITTINGGI H. ISMET AMZIS, SH DRS. H. ZULBAHRI MAJID, M.PD Partai Demokrat, Partai Gerindra, PDI Perjuangan
BANTEN KOTA CILEGON Dr. H. TUBAGUS IMAN ARIYADI, M.Si Drs. H. EDI ARIADI, M.Si Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera, PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, NASDEM, Partai Persatuan Pembangunan
KOTA DENPASAR I B RAI DHARMAWIJAYA MANTRA I GST NGR JAYAN NEGARA PDI Perjuangan
 JA BAR KOTA DEPOK

http://dimas-babai.com

DIMAS OKY NUGROHO BABAI SUHAIMI, SE PDI Perjuangan, Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional
 RIAU KOTA DUMAI dr. H. Agus Widayat, MM Maman Sufriadi, SH, M.Si PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat
KOTA GUNUNGSITOLI Ir. Lakhomizaro Zebua Sowa’a Laoli, SE., M.Si PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Kebangkitan Bangsa
KOTA MAGELANG Ir. H. SIGIT WIDYONINDITO, MT Dra. WINDARTI AGUSTINA PDI Perjuangan, Partai Gerindra
KOTA MANADO HANNY JOOST PAJOUW, SE.Ak.ME GREGORIUS TONNY RAWUNG, SE PDI Perjuangan, Partai NasDem

Daftar Calon Kepala Daerah Diusung PDI Perjuangan

PROVINSI KAB/KOTA CALON KaDa CALON WaKa Pengusung
SUMSEL KAB. PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR /PALI

HAFAL untuk Bupati dan Wakil Bupati PALI
HAFAL untuk Bupati dan Wakil Bupati PALI
Ir. H. HERI AMALINDO, MM FERDIAN ANDREAS LACONY, S. Kom., MM Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Nasdem, Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. PESAWARAN H. DENDI RAMADHONA, S.T. ERIAWAN, S.H. PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. PESISIR BARAT KRT. OKING GANDA MIHARJA, SH IRAWAN TOPANI, SH, M.Kn PDI Perjuangan, PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA
KAB. PESISIR SELATAN Drs. Editiwarman, M.Si Bakri Bakar, SH Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Bulan Bintang, Partai Kebangkitan Bangsa
KAB. PONOROGO H. Amin, SH Agus Widodo, SE, M.Si Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan
KAB. POSO Ir. Wirabumi Kaluti Yohanis Krisnajaya Syaiban, S.I.P PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia
KAB. PULAU TALIABU H. Zainal Mus Arifin H. Abd. Majid, SE, MT PDI Perjuangan, Partai NasDem
KAB. PURBALINGGA H. TASDI, SH,MM DYAH HAYUNING PRATIWI, SE, B.ECON PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, NASDEM
KAB. PURWOREJO Hj. NURUL TRIWAHYUNI, SE H. BUDI SUNARYO, A.Md PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa
KAB. RAJA AMPAT WELEM MAMBRASAR NASIB BARIA
KAB. PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR Ir. H. HERI AMALINDO, MM FERDIAN ANDREAS LACONY, S. Kom., MM Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Nasdem, Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. PESAWARAN H. DENDI RAMADHONA, S.T. ERIAWAN, S.H. PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. PESISIR BARAT KRT. OKING GANDA MIHARJA, SH IRAWAN TOPANI, SH, M.Kn PDI Perjuangan, PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA
KAB. PESISIR SELATAN Drs. Editiwarman, M.Si Bakri Bakar, SH Partai Hati Nurani Rakyat, PDI Perjuangan, Partai Bulan Bintang, Partai Kebangkitan Bangsa
KAB. PONOROGO H. Amin, SH Agus Widodo, SE, M.Si Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan
KAB. POSO Ir. Wirabumi Kaluti Yohanis Krisnajaya Syaiban, S.I.P PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia
KAB. PULAU TALIABU H. Zainal Mus Arifin H. Abd. Majid, SE, MT PDI Perjuangan, Partai NasDem
KAB. PURBALINGGA H. TASDI, SH,MM DYAH HAYUNING PRATIWI, SE, B.ECON PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, NASDEM
KAB. PURWOREJO Hj. NURUL TRIWAHYUNI, SE H. BUDI SUNARYO, A.Md PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa
KAB. SELUMA Bundra Jaya Suparto Partai NasDem, PDI Perjuangan
KAB. SELUMA Salehan Evan Efrianto
 JATENG KAB. SEMARANG Dr. H.MUNDJIRIN ENGKUN SUPARMADIREDJO,Sp.OG NGESTI NUGRAHA, SH Partai Amanat Nasional, Partai Gerindra, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
KAB. SERAM BAGIAN TIMUR Siti U Suruwaky Syarifudin Goo Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia, Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Nasdem
KAB. SERANG Hj. RATU TATU CHASANAH, SE, M. Ak DRS. H.PANDJI TIRTAYASA, M. SI PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai NasDem
KAB. SERDANG BEDAGAI Drs. H. Abdul Rahim, M.M, MSi H. Ali Muhammad Madhy Partai Hati Nurani Rakyat, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. SIDOARJO H. MG. HADI SOETJIPTO, S.H., M.M. H. ABDUL KOLIK, S.E. PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Nasdem, Partai Bulan Bintang, Partai Persatuan Pembangunan
KAB. SIDOARJO H. SAIFUL ILAH, S.H, M.Hum. H. NUR AHMAD SYAIFUDDIN, S.H. PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. SIJUNJUNG Drs. H. Yuswir Arifin Datuak H. Arrival Boy, SH PDI Perjuangan, Partai Golkar, PARTAI BULAN BINTANG, NASDEM
 SUMUT KAB. SIMALUNGUN TUMPAK SIREGAR, SH IRWANSYAH DAMANIK, SE PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia
KAB. SINTANG Drs. Ignasius Juan, MM Drs.H. Senen Maryono, M.Si PDI Perjuangan, Partai Demokrat, PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Amanat Nasional
KAB. SITUBONDO R. Abdullah Faqih Ghufron H. Untung PDI Perjuangan, Partai Demokrat
KAB. SLEMAN Yuni Satya Rahayu Danang Wicaksana Sulistya PDI Perjuangan, Partai Gerindra
KAB. SOLOK Agus Syahdeman, S.H. Drs. Wahidup Partai Demokrat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
KAB. SOPPENG Andi Kaswadi Razak Supriansa Partai Gerindra, Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. SORONG SELATAN SAMSUDIN ANGGILULI, S.E Drs. MARTHINUS SALAMUK PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. SRAGEN H. SUGIYAMTO SH. MH Drs. H. JOKO SAPTONO M.Si PDI Perjuangan, Partai Demokrat
KAB. SUKABUMI AKHMAD JAJULI, M.Pd. IMAN ADINUGRAHA, SE, Akt. PDI Perjuangan, Partai Nasdem, Partai Amanat Nasional
KAB. SUKOHARJO H. WARDOYO WIJAYA, SH, MH PURWADI, SE, MM PDI Perjuangan
KAB. SUMBA BARAT KEDU LERE, SH ALEXCANDER REDAMATA DAPAWOLE PDI Perjuangan, Partai Demokrat
KAB. SUMBA TIMUR Drs. GIDION MBILIJORA, M.Si UMBU LILI PEKUWALI, ST., MT PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. SUMBAWA H. M. HUSNI DJIBRIL, B.SC Drs. H.MAHMUD ABDULLAH PDI Perjuangan, Partai Demokrat
KAB. SUMBAWA BARAT DR. IR. W. MUSYAFIRIN, MM FUD SYAIFUDDIN, ST PDI Perjuangan, Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai NasDem
KAB. SUMENEP Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si Achmad Fauzi Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan
KAB. SUPIORI Drs. Yan Imbab Dwi Saptawati Trikora Dewi PDI Perjuangan, Partai NasDem, Partai Amanat Nasional
KAB. TABANAN Ni Putu Eka Wiryastuti, S.Sos I Komang Gede Sanjaya PDI Perjuangan
KAB. TANA TIDUNG Dr. Undunsyah, MH, M.SI Markus Yungking Partai Amanat Nasional, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia, Partai Kebangkitan Bangsa
KAB. TANA TORAJA Theofilus Allorerung, SE Yohanis Lintin Paembongan, S.Th Partai Golkar, PDI Perjuangan
KAB. TANAH BUMBU MARDANI H MAMING H.SUDIAN NOOR PDI Perjuangan, Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Demokrat, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Amanat Nasional

Calon Kepala Daerah PILKADA 9 Desember 2015 Diusung PDI Perjuangan

PROVINSI KAB/KOTA CALON KaDa WAKIL KaDa PARTAI PENGUSUNG
KALBAR KAB. MELAWI Panji, S.Sos Dadi Sunarya Usfa Yursa, A.Md. PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Nasional Demokrat
PAPUA KAB. MERAUKE Drs. ROMANUS MBARAKA, MT SUGIYANTO, SH, MM Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai NasDem, Partai Hati Nurani Rakyat, PDI Perjuangan
SULAWESI UTARA KAB. MINAHASA SELATAN JHONY R.M. SUMUAL ANNIE S LANGI Partai Gerindra, Partai Demokrat
SULAWESI UTARA KAB. MINAHASA SELATAN CHRISTIANY EUGENIA PARUNTU FRANKY DONNY WONGKAR, SH PDI Perjuangan, Partai Golkar
KAB. MINAHASA UTARA DRS.SOMPIE S.F. SINGAL DR. PEGGY MEKEL,SE,MA PDI Perjuangan
JAWA TIMUR KAB. MOJOKERTO H. MUSTOFA KAMAL FASA, SE H. PUNGKASIADI, SH PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Nasdem
SULAWESI TENGAH KAB. MOROWALI UTARA Idham Ibrahim, SE, M.SE Heymans Larope, SE PDI Perjuangan, Partai Nasional Demokrat, Partai Amanat Nasional
BENGKULU KAB. MUKO MUKO Sapuan,SE. AK; MM.CA Dedy Kurniawan, S.Sos PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera
SULAWESI TENGGARA KAB. MUNA LM. Rusman Emba, ST Ir. H. Abdul Malik Ditu, M.Si Partai Demokrat, PDI Perjuangan
SUMATERA SELATAN KAB. MUSI RAWAS H.ZULKARNAIN, SE Hj. Ratnawati PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan
KAB. MUSI RAWAS UTARA Drs. H.M SARIF HIDAYAT, MM H. DEVI SUHARTONI Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Bulan Bintang, PDI Perjuangan
KAB. NABIRE Isaias Douw,S.Sos Amirullah Hasyim, MM PDI Perjuangan, Partai Demokrat
KAB. NATUNA Rodhial Huda Rusdi Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
NTT KAB. NGADA KORNELIS SOI, SH JOSEPH BEI, A.Md PDI Perjuangan, NASDEM
KAB. NGAWI Ir. H. Budi Sulistyono ALIAS KANANG Ony Anwar, S.T PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Nasdem, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Kebangkitan Bangsa
KAB. NIAS DRS. SOKHIATULO LAOLI, MM AROSOKHI WARUWU, SH, MH PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Gerindra
KAB. NIAS BARAT Faduhusi Daely, S.Pd Khenoki Waruwu Partai Gerindra, PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional
SUMATERA UTARA KAB. NIAS SELATAN Idealisman Dachi Siotaraizokho Gaho PDI Perjuangan, Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa
KAB. NIAS UTARA Marselinus Ingati Nazara, A.Md Haogosoki Hulu, SE, MM PDI Perjuangan, Partai Gerindra, PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA
KALBAR KAB. NUNUKAN Hj. Asmin Laura Hafid, SE, MM H. Faridil, SE, ST Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Keadilan Sejahtera, PDI Perjuangan
SUMSEL KAB. OGAN ILIR AW Nofiadi AM Ilyas Panji Alam Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Keadilan Sejahtera
SUMSEL KAB. OGAN KOMERING ULU Kuryana Aziz Johan Anuar PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai NasDem
SUMSEL KAB. OGAN KOMERING ULU SELATAN H.A. WAHAB NAWAWI, S.Sos, MM dr. Hj. HERAWATI GATOT, S.pM PARTAI BULAN BINTANG, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, PDI Perjuangan
KAB. OGAN KOMERING ULU TIMUR H. M. KHOLID MD FERY ANTONI, SE NASDEM, Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa
JAWA TIMUR KAB. PACITAN Drs. BAMBANG SUSANTO, S.Pd, SE, MM Hj. SRI RETNO DHEWANTI, A.Md PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat
GORONTALO KAB. PAHUWATO Syarif Mbuinga, S.Pd., SE, MM Drs. Amin Haras PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. PAKPAK BHARAT Remigo Yolando Berutu, MBA IR. H. MAJU ILYAS PADANG Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera, PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia
KAB. PANDEGLANG HJ. RATU SITI ROMLAH YAN RIADI Partai Demokrat, PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN
KAB. PANGANDARAN JEJE WIRADINATA H. ADANG HADARI PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat
KAB. PANGKAJENE KEPULAUAN Drs. H. ABD. RAHMAN ASSAGAF, M.I.Kom Ir. H. KAMRUSSAMAD, M.Si Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Gerindra
KAB. PANGKAJENE KEPULAUAN DRS. H. NUR ACHMAD AS, SH DRS. HAPSUL W. HAFATTAH
KAB. PANGKAJENE KEPULAUAN H. SYAMSUDDIN A. HAMID, SE H. SYAHBAN SAMMANA, SH Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. PASAMAN H. BENNY UTAMA, SH, MM DANIEL Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional
KAB. PASER Ir.H.Bambang Susilo, MM Ir.H.Sulaiman Eva Meruk. M.Ap PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Amanat Nasional, NASDEM
KAB. PEGUNUNGAN ARFAK YOSIAS SAROY, SH, MH MARINUS MANDACAN, SIP KEDAONG CYBER TEAM, Partai Persatuan Pembangunan, PDI Perjuangan
KAB. PEGUNUNGAN BINTANG YAKOBUS WAYAM, S.IP, M.Si MARDIN MANURUNG, SE, M.Si Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
KAB. PEKALONGAN H. Riswadi, SH Hj. Nurbalistik PDI Perjuangan
KAB. PEMALANG H.JUNAEDI, SH.MM. Drs. H. MARTONO PDI Perjuangan

Calon Pilkada 2015 PDI Perjuangan

PROVINSI KABUPATEN CALON KaDa Calon Wakil PARTAI PENGUSUNG
KALTENG KAB. KOTAWARINGIN TIMUR SUPIAN HADI, S.Ikom Drs.H.M.TAUFIQ MUKRI PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Nasional Demokrat, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera
RIAU KAB. KUANTAN SINGINGI Drs.H.Mursini,M.Si H.Halim Partai Persatuan Pembangunan, Partai Gerindra, PDI Perjuangan
KALTIM KAB. KUTAI BARAT FX. YAPAN, SH H. EDYANTO ARKAN, SE Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Keadilan Sejahtera
KALTIM KAB. KUTAI TIMUR Hj. Norbaiti, A.Md Ir. Oerdiansyah Partai Gerindra, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia
SUMUT KAB. LABUHANBATU H. Pangonal, SE, M.SI Andi Suhaimi Dalimunthe, ST, MT Partai Keadilan Sejahtera, PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Bulan Bintang
SUMUT KAB. LABUHANBATU UTARA H. MINAN PASARIBU, SH, MM Ir. H. YUSRIAL SUPRIANTO Partai Gerindra, PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia
JATIM KAB. LAMONGAN H. FADELI, SH., MM. Dra. Hj. KARTIKA HIDAYATI, MM., MHP Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. LAMPUNG SELATAN DR. H. Zainudin Hasan, MH Nanang Ermanto Partai Amanat Nasional, Partai Nasdem, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. LAMPUNG TENGAH DR. IR. H. MUSTAFA, M.H. LOEKMAN DJOYOSOEMARTO PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA, Partai Hati Nurani Rakyat
LAMPUNG KAB. LAMPUNG TIMUR Erwin Arifin Priyo Budi Utomo PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. LEBONG H. ROSJONSYAH, SIP, M.Si WAWAN FERNANDEZ, SH, MKN NASDEM, PDI Perjuangan
KAB. LIMA PULUH KOTA IR. IRFENDI ARBI, MP FERIZAL RIDWAN,S.SOS PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan
KEPRIAU KAB. LINGGA Mohd.Ikhsan Fansuri ST H. Isnin SPd.MSi Partai Demokrat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
NTB KAB. LOMBOK TENGAH H.L. SUPRAYATNO, SH.MBA.MM ZAENUL AIDI, S.P Partai Demokrat, PARTAI BULAN BINTANG, PDI Perjuangan, PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA
KAB. LOMBOK UTARA Dr. H. NAJMUL AKHYAR, SH.,MH SARIFUDIN, SH PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, PARTAI BULAN BINTANG
KAB. LUWU TIMUR H. M. Nur Husain Drs. Esra Lamban PDI Perjuangan, Partai Demokrat
KAB. LUWU UTARA HJ. INDAH PUTRI INDRIANI, S.IP, M.SI MUH.THAHAR RUM, SH Partai Gerindra, PDI Perjuangan, Partai Nasional Demokrat, Partai Demokrat
KAB. MAHAKAM ULU BONIFASIUS BELAWAN GEH, SE. DRS. Y. JUAN JENAU Partai Gerindra, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. MAJENE Drs. H.Fahmi Massiara, MH Lukman, S.Pd.,M.Pd PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Golkar
KAB. MALAKA dr. Stefanus Bria Seran MPH Drs. Daniel Asa Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Nasdem, Partai Demokrat
KAB. MALANG

MALANGPDIP

Dra. Hj. DEWANTI RUMPOKO, M.Si Dra. Hj. MASRIFAH HADI, M.Pd PDI Perjuangan
KAB. MALANG NURCHOLIS MUHAMMAD MUFIDZ
KAB. MALINAU Dr. Yansen Tp, M.Si Topan Amrullah, S.Pd, M.Si Partai Demokrat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Kesejahteraan dan Persatuan Indonesia
KAB. MALUKU BARAT DAYA Drs. Barnabas N. Orno Benjamin Th. Noach. ST PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia
KAB. MAMBERAMO RAYA DEMIANUS KYEUW-KYEUW, SH, MH ADIRYANUS MANEMI, SKM, MPH Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional
KAB. MAMUJU Ir. BUSTAMIN BAUSAT H. DAMRIS, S.Pd Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Gerindra
KAB. MAMUJU UTARA Ir.H. AGUS AMBO DJIWA, MP Drs.H. Muhammad Saal PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partiai Amanat Nasional, Partai NasDem, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. MANDAILING NATAL Drs. H. Dahlan Hasan Nasution Muhammad Ja’far Sukhairi Nasution Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Nasdem
KAB. MANGGARAI HERYBERTUS GERADUS LAJU NABIT, SE.MA ADOLFUS GABUR, B.Sc, S.Sos PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Nasional Demokrat
KAB. MANGGARAI BARAT DRS. AGUSTINUS CH. DULA Drh. MARIA GEONG, Ph.D Partai NasDem, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia, PDI Perjuangan, Partiai Amanat Nasional
KAB. MANOKWARI DEMAS PAULUS MANDACAN, S.Sos., M.Cc.Dev Drs. EDY BUDOYO Partai Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat, PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA

Calon Kepala Daerah Diusung PDIPerjuangan

PROVINSI KABUPATEN CALON WAKIL PARTAI PENDUKUNG
KAB. BULUNGAN H.SUDJATI, SH INGKONG ALA PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. BUNGO H. SUDIRMAN ZAINI, SH, MH H. ANDRIANSYAH, SE, M.Si Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Golkar
KAB. BUTON UTARA Drs. Abu Hasan, M.Pd Ramadio. S.E Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa
JABAR KAB. CIANJUR dr. H. Suranto, MM Aldwin Rahadian M, SH., M.AP. PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Amanat Nasional, Partai Nasdem, Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera
SUMBAR KAB. DHARMASRAYAdharmasraya SUTAN RISKA TUANKU KERAJAAN, SE H. AMRIZAL DT. RAJO MEDAN, S.Sos PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat
NTB KAB. DOMPU H. MULYADIN, SH,MH KURNIAWAN AHMADI Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat, PDI Perjuangan
PAPUA KAB. FAK FAK Drs. Mohammad Uswanas, M.Si Ir. Abraham Sopaheluakam, M.Si Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Partai NasDem, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Amanat Nasional, Partai Bulan Bintang, Partai Persatuan Pembangunan
GORONTALO KAB. GORONTALO H. Tonny S. Junus H. Sofyan Puhi Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan, Partai Nasdem
KAB. GORONTALO PROF. DR. Ir. Hi. NELSON POMALINGO, M.Pd Hi. FADLI HASAN, ST, M.Si Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan
JATIM KAB. GRESIK Dr. H. HUSNUL KHULUQ, Drs. M.M Drs. H. ACH. RUBAIE, S.H., M.H. PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Gerindra
JATIM KAB. GROBOGAN SRI SUMARNI, SH, MM EDY MARYONO, SH, MM PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat
DI YOGYA KAB. GUNUNG KIDUL

Gunung Kidul

H. Djangkung Sudjarwadi, SH., LLM. Endah Subekti Kuntariningsih, SE. PDI Perjuangan
KAB. HALMAHERA BARAT Risno Sadonda, ST Djainudin Abdullah, S.Sos PDI Perjuangan
MALUKU UTARA KAB. HALMAHERA SELATAN H. Amin Ahmad S.IP, MM Jaya Lamusu, SP Partai Nasional Demokrat, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia, Partai Kebangkitan Bangsa
KAB. HALMAHERA TIMUR H. Rudi Erawan, SE, M.Si Ir. Muhdin PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partiai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia, Partai NasDem
KAB. HALMAHERA UTARA Dr. Hi. Kasman Hi Ahmad M.Dp Imanuel Lalonto PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Partiai Amanat Nasional, Partai Bulan Bintang, Partai Persatuan Pembangunan
KAB. HULU SUNGAI TENGAH DR.Ir.H.HARUN NURASID,MM.,MT H.AULIA OKTAFIANDI,ST.,MAppCom PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Nasdem, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia
KAB. HUMBANG HASUNDUTAN DOSMAR BANJARNAHOR SAUT PARLINDUNGAN SIMAMORA Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. INDRAGIRI HULU H. YOPI ARIANTO, SE H. KHAIRIZAL, SE., M.Si PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA
KAB. INDRAMAYU HJ. ANNA SOPHANAH DRS. H. SUPENDI, M.Si Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat
KAB. INDRAMAYU TOTO SUCARTONO, SE DRS. H. RASTA WIGUNA PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Nasional Demokrat
KAB. JEMBER dr. Hj. FAIDA, MMR Drs. KH. A. MUQIT ARIEF Partai Nasional Demokrat, PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Amanat Nasional
KAB. JEMBRANA I Putu Artha, SE., MM I Made Kembang Hartawan, SE., MM PDI Perjuangan
KAB. KAIMANA Matias Mairuma Ismail Sirfefa, SH, MH PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. KAPUAS HULU Fransiskus Diaan, S.H Andi Aswad, S.H PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Hati Nurani Rakyat
JAWA BARATA KAB. KARAWANG H. AKHMAD MARJUKI TB. DEDY SUWANDI GUMELAR PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Bulan Bintang
KAB. KARIMUN Aunur Rafiq Anwar Hasyim Partai Demokrat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai NasDem, Partai Amanat Nasional
SUMUT KAB. KARO Sudarto Sitepu Herman Antonius Purba PDI Perjuangan, Partai NasDem
JAWA TENGAN KAB. KEBUMEN H. BAMBANG WIDODO, SE, MM H. SUNARTO, ST Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. KEDIRI HARYANTI H. MASYKURI DRS MM PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Demokrat, Partai Golkar, PARTAI BULAN BINTANG, Partai Persatuan Pembangunan
KAB. KEEROM JANSEN MONIM, ST, MM. IGNASIUS HASIM, S.Ag PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional
KAB. KEPAHIANG BAMBANG SUGIANTO, SH.MH ARBI, S.IP PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera
KAB. KEPULAUAN ANAMBAS Abdul Haris.SH Wann Zuhendra Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Golkar
KAB. KEPULAUAN ARU Welhelm Daniel Kurnala, SH Asis Goin, S.IP PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. KEPULAUAN MERANTI TENGKU MUSTAFA AMYURLIS alias UCOK PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat
sulsel KAB. KEPULAUAN SELAYAR H. SAIFUL ARIF, S.H H. M. JUNAEDI FAISAL, SE NASDEM, Partai Demokrat, PDI Perjuangan
KAB. KEPULAUAN SULA Ir. Rusmin Latara Ir. H. M. Saleh Marasabessy Partiai Amanat Nasional, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia
kalbar KAB. KETAPANG Drs. H. Andi Djamiruddin, M.Si Chanisius Kuan PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Kebangkitan Bangsa
KAB. KLATEN Hj. SRI HARTINI, SE Hj. SRI MULYANI PDI Perjuangan, NASDEM
KAB. KONAWE KEPULAUAN H. M. Nur Sinapoy H. Abd. Salam NASDEM, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera, PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, NASDEM
KAB. KONAWE SELATAN H. ASNAWI SYUKUR TOHALU. S.Sos.,MM Drs.H. A. RUSTAM TAMBURAKA, M.Si Partai NasDem, Partai Keadilan Sejahtera, PDI Perjuangan, Partai Gerindra
Sultra KAB. KONAWE UTARA Drs. H. ASWAD SULAIMAN P, M.Si H. ABU HAERA, S.Sos, M.Si PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Hati Nurani Rakyat
KALSEL KAB. KOTABARU MUHAMAD ALAMSYAH, ST, M.AP H. RISDIANTO HALENG. HB PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera

PASANGAN CALON PILKADA 9 Desember 2015 PDI Perjuangan

 PROVINSI KAB/KOTA CALON KaDa CALON Wakil PARTAI PENDUKUNG
 BENGKULU Sultan B Najamudin Mujiono PDI Perjuangan, Partai Demokrat
 JAMBI H. HASAN BASRI AGUS EDI PURWANTO, S.Hi., M.Si. Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Gerindra
KAB. PELALAWAN ZUKRI Drs. H. ABDUL ANAS BADRUN PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. ROKAN HILIR H.SUYATNO Drs.JAMILUDIN PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Nasional Demokrat, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia
KAB. ROKAN HULU H. Syafaruddin Poti, SH H. Erizal, ST PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional
KAB. SIAK H. SUHARTONO, SH H. SYAHRUL, S.IP, M.Si PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Demokrat, PARTAI BULAN BINTANG, Partai Gerindra
 SUMUT KAB. ASAHAN Drs. H. Taufan Gama Simatupang, M.AP H. Surya, BSc PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Nasdem, Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia
 PAPUA KAB. ASMAT ELISA KAMBU, S.Sos THOMAS EPPE SAFANPO, ST Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
KAB. BALANGAN Drs. H. ANSHARUDDIN, M.Si H. SYAIFULLAH PDI Perjuangan, Partai NasDem, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Bulan Bintang
KAB. BANDUNG H. DEKI FAJAR, SH. DONY MULYANA KURNIA, ST. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Demokrat
KAB. BANGGAI Ir. H. HERWIN YATIM, MM H. MUSTAR LABOLO PDI Perjuangan, Partai Demokrat
KAB. BANGGAI LAUT Drs. H. Wenny Bukamo Dra. Hj. Tuty Hamid Partai Nasdem, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat
KAB. BANGKA BARAT Drs. H. PARHAN ALI, MM MARKUS, SH PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat
KAB. BANGKA BARAT H. SUKIRMAN, SH SAFRI, SE NASDEM, Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Bulan Bintang
 BABEL KAB. BANGKA SELATAN RINA TAROL, SE Drs. DJULAILI ROMLI Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa
KAB. BANGKA TENGAH Ir. H. PATRIANUSA SJAHRUN HABIBULLAH H.A HIJAZI, SH PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional
KAB. BANGLI I Made Gianyar,SH.,M.Hum Sang Nyoman Sedana Arta,SE PDI Perjuangan
DIYOGYA KAB. BANTUL Hj. Sri Surya Widati Drs. Misbakhul Munir PDI Perjuangan, NASDEM
JATIM KAB. BANYUWANGI H. Abdullah Azwar Anas, M.Si Yusuf Widyatmoko, S. Sos PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Nasdem, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional
KAB. BARRU Drs. H. ANDI ANWAR AKSA H. ADHAN ARMAN WOLLONG, S.Sos PDI Perjuangan, Partai Golkar
JAMBI KAB. BATANGHARI SINWAN, S.H H. ARZANIL PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional
BANGKA BELITUNG KAB. BELITUNG TIMUR dr. Basuri Tjahaja Purnama, M.Gizi Sp.GK Fezzi Uktolseja, SE., MM NASDEM, PDI Perjuangan
KAB. BELU drg. VALENTINUS PAREIRA, MM CYPRIANUS TEMU, S. IP Partai NasDem, PDI Perjuangan
KAB. BENGKALIS Ir. H. HERLIYAN SALEH, M.Sc RIZA PAHLEFI Partai Nasional Demokrat, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia, Partiai Amanat Nasional
 RIAU KAB. BENGKALIS DR. H. SULAIMAN ZAKARIA, Dipl.Ps NOOR CHARIS PUTRA Partai Demokrat, PDI Perjuangan
KAB. BENGKAYANG Sebastianus Darwis, SE., MM. Rurahkmad PDI Perjuangan
KAB. BENGKULU SELATAN H. Reskan Effendi Rini Susanti,S.Sos PDI Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Kesejahteraan dan Persatuan Indonesia
KAB. BENGKULU UTARA Ir. Mian Arie Septia Adinata, SE Partai Gerindra, PDI Perjuangan, PARTAI BULAN BINTANG, Partai Demokrat
KAB. BERAU H, Ahmad Rifai, ST.MM H. Fahmi Rizani Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrat, Partai Gerindra, PDI Perjuangan
NTB KAB. BIMA DRS. H. SYAFRUDIN H.M.NUR.,M.PD DRS. H.MASYKUR H.MNS NASDEM, PDI Perjuangan, Partai Demokrat
KAB. BINTAN DRS.KHAZALIK INDRA SETIAWAN, SST PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat
JATIM KAB. BLITAR Drs. Rijanto, MM Marhaenis U. W. PDI Perjuangan, Partai Gerindra
JATIM KAB. BLORA H. ABU NAFI, SH H. M. Dasum, SE, MMA PDI Perjuangan, Partai Gerindra
SULUT KAB. BOLAANG MONGONDOW SELATAN H. HERSON MAYULU, S.IP ISKANDAR KAMARU, S.Pt PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional
SULUT KAB. BOLAANG MONGONDOW TIMUR SAM SACHRUL MAMONTO, S.Sos MEDY M. LENSUN, ST PDI Perjuangan, Partai Nasdem
SULSEL KAB. BONE BOLANGO H. MOH. KRIS WARTABONE, S.AP TAHIR S. BADU, S.AP., MM PDI Perjuangan, Partai Gerindra

PANCASILA 1 JUNI 1945: Pidato BPUPKI IR. Soekarno

Teks Pidato Lahirnya Pancasila – Soekarno

Pendahuluan

Paduka tuan Ketua yang mulia!

Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya.

Saya akan menetapi permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka tuan ketua yang mullia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.

Ma’af, beribu ma’af! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka tuan ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda: “Philosofische grondslag” dari pada Indonesia merdeka. Philosofische grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka tuan Ketua yang mulia, tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberitahukan kepada tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan “merdeka”. Merdeka buat saya ialah: “political independence”, politieke onafhankelijkheid. Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?

Tuan-tuan sekalian! Dengan terus-terang saja saya berkata:

Tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang – saya katakan didalam bahasa asing, ma’afkan perkataan ini – “zwaarwichtig” akan perkara yang kecil-kecil. “Zwaarwichtig” sampai -kata orang Jawa- “njelimet”. Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai njelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan.

Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu. Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya!

Alangkah berbedanya isi itu! Jikalau kita berkata: Sebelum Negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai, itu selesai, itu selesai, sampai njelimet!, maka saya bertanya kepada tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80% dari rakyatnya terdiri kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti hal ini atau itu. Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Disitu ternyata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu!! Toch Saudi Arabia merdeka! Lihatlah pula – jikalau tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat – Soviet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Soviet, adakah rakyat soviet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia, adalah rakyat Musyik yang lebih dari pada 80% tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Soviet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Soviet itu. Dan kita sekarang disini mau mendirikan negara Indonesia merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan! Maaf, P. T. Zimukyokutyoo! Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca tuan punya surat, yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai njelimet hal ini dan itu dahulu semuanya!

Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai njelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, tuan tidak akan mengalami Indonesia merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia merdeka, – sampai dilobang kubur!

Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun ’33 saya telah menulis satu risalah, Risalah yang bernama “Mencapai Indonesia Merdeka”. Maka di dalam risalah tahun ’33 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhankelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah satu jembatan emas. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa diseberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat.

Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam satu malam, – in one night only! -, kata Armstrong di dalam kitabnya. Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia merdeka di satu malam sesudah ia masuk kota Riad dengan 6 orang! Sesudah “jembatan” itu diletakkan oleh Ibn saud, maka diseberang jembatan, artinya kemudian dari pada itu, Ibn Saud barulah memperbaiki masyarakat Saudi arabia. Orang tidak dapat membaca diwajibkan belajar membaca, orang yang tadinya bergelandangan sebagai nomade yaitu orang badui, diberi pelajaran oleh Ibn Saud jangan bergelandangan, dikasih tempat untuk bercocok-tanam. Nomade dirubah oleh Ibn Saud menjadi kaum tani, – semuanya diseberang jembatan.

Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Soviet-Rusia Merdeka, telah mempunyai Djnepprprostoff [1], dam yang maha besar di sungai Dnepr? Apa ia telah mempunyai radio-station, yang menyundul keangkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia?

Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Soviet Rusia merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio- station, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan Creche, baru mengadakan Djnepprostoff! Maka oleh karena itu saya minta kepada tuan-tuan sekalian, janganlah tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini danitu lebih dulu harus selesai dengan njelimet, dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka. Alangkah berlainannnya tuan-tuan punya semangat, – jikalau tuan-tuan demikian -, dengan semangat pemuda-pemuda kita yang 2 milyun banyaknya. Dua milyun pemuda ini menyampaikan seruan pada saya, 2 milyun pemuda ini semua berhasrat Indonesia Merdeka Sekarang!

Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakyat, yang mengetahui sejarah, menjadi zwaarwichtig, menjadi gentar, pada hal semboyan Indonesia merdeka bukan sekarang saja kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan semboyan Indonesia merdeka, bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan “INDONESIA MERDEKA SEKARANG”. Bahkan 3 kali sekarang, yaitu Indonesia Merdeka sekarang, sekarang, sekarang!

Dan sekarang kita menghadapi kesempatan untuk menyusun Indonesia merdeka, – kok lantas kita zwaarwichtig dan gentar hati!. Saudara -saudara, saya peringatkan sekali lagi, Indonesia Merdeka, political independence, politieke onafhankelijkheid, tidak lain dan tidak bukan ialah satu jembatan! Jangan gentar! Jikalau umpamanya kita pada saat sekarang ini diberikan kesempatan oleh Dai Nippon untuk merdeka, maka dengan mudah Gunseikan diganti dengan orang yang bernama Tjondro Asmoro, atau Soomubutyoo diganti dengan orang yang bernama Abdul Halim. Jikalau umpamanya Butyoo Butyoo diganti dengan orang-orang Indonesia, pada sekarang ini, sebenarnya kita telah mendapat political independence, politieke onafhankelijkheid, – in one night, di dalam satu malam! Saudara-saudara, pemuda-pemuda yang 2 milyun, semuanya bersemboyan: Indonesia merdeka, sekarang! Jikalau umpamanya Balatentera Dai Nippon sekarang menyerahkan urusan negara kepada saudara-saudara, apakah saudara-saudara akan menolak, serta berkata: mangke- rumiyin, tunggu dulu, minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia merdeka?

(Seruan: Tidak! Tidak)

Saudara-saudara, kalau umpamanya pada saat sekarang ini balatentara Dai Nippon menyerahkan urusan negara kepada kita, maka satu menitpun kita tidak akan menolak, sekarangpun kita menerima urusan itu, sekarangpun kita mulai dengan negara Indonesia yang Merdeka!

Saudara-saudara, tadi saya berkata, ada perbedaan antara Soviet-Rusia, Saudi Arabia, Inggris, Amerika dll. tentang isinya: tetapi ada satu yang sama, yaitu, rakyat Saudi Arabia sanggup mempertahankan negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya. Inilah yang menjadi minimum-eis. Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, saudara-saudara, semua siap-sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, masak untuk merdeka.

Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusia pun demikian, saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata: Ah saya belum berani kawin, tunggu dulu gajih F.500. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai sendok-garpu perak satu kaset, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet, barulah saya berani kawin.

Ada orang lain yang berkata: saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu “meja-makan”, lantas satu zitje, lantas satu tempat tidur.

Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan tikar, dengan satu periuk: dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubug: kawin. Sang klerk dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat-tidur: kawin. Sang Ndoro yang mempunyai rumah gedung, elektrische kookplaat, tempat tidur, uang bertimbun-timbun: kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig, belum tentu mana yang lebih bahagia, sang Ndoro dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul, atau Sarinem dan Samiun yang hanya mempunyai satu tikar dan satu periuk, saudara-saudara!

Saudara-saudara, soalnya adalah demikian: kita ini berani merdeka atau tidak?? Inilah, saudara-saudara sekalian, Paduka tuan ketua yang mulia, ukuran saya yang terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar uraian P.T. Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala menjawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekaan. Saudara-saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia merdeka!

Di dalam Indonesia merdeka itulah kita memerdekakakan rakyat kita!! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita! Di dalam Saudi Arabia Merdeka, Ibn Saud memerdekakan rakyat Arabia satu persatu. Di dalam Soviet-Rusia Merdeka Stalin memerdeka-kan hati bangsa Soviet-Rusia satu persatu.

Saudara-saudara! Sebagai juga salah seorang pembicara berkata: kita bangsa Indonesia tidak sehat badan, banyak penyakit malaria, banyak dysenterie, banyak penyakit hongerudeem, banyak ini banyak itu. “Sehatkan dulu bangsa kita, baru kemudian merdeka”.

Saya berkata, kalau inipun harus diselesaikan lebih dulu, 20 tahun lagi kita belum merdeka. Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud saya dengan perkataan “jembatan”. Di seberang jembatan, jembatan emas, inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi.

Tuan-tuan sekalian! Kita sekarang menghadapi satu saat yang maha penting. Tidakkah kita mengetahui, sebagaimana telah diutarakan oleh berpuluh-puluh pembicara, bahwa sebenarnya internationalrecht, hukum internasional, menggampangkan pekerjaan kita? Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidak diadakan syarat yang neko-neko, yang menjelimet, tidak!. Syaratnya sekedar bumi, rakyat, pemerintah yang teguh! Ini sudah cukup untuk internationalrecht. Cukup, saudara-saudara. Asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahnya, kemudian diakui oleh salah satu negara yang lain, yang merdeka, inilah yang sudah bernama: merdeka. Tidak peduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak peduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak peduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahnya, – sudahlah ia merdeka.

Janganlah kita gentar, zwaarwichtig, lantas mau menyelesaikan lebih dulu 1001 soal yang bukan-bukan! Sekali lagi saya bertanya: Mau merdeka apa tidak? Mau merdeka atau tidak?

Saudara-saudara! Sesudah saya bicarakan tentang hal “merdeka”, maka sekarang saya bicarakan tentang hal dasar.

Paduka tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah yang paduka tuan Ketua kehendaki! Paduka tuan Ketua minta dasar, minta philosophischegrondslag, atau, jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka tuan Ketua yang mulia meminta suatu “Weltanschauung”, diatas mana kita mendirikan negara Indonesia itu.

Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak diantara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas suatu “Weltanschauung”. Hitler mendirikan Jermania di atas “national-sozialistische Weltanschauung”, – filsafat nasional-sosialisme telah menjadi dasar negara Jermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu. Lenin mendirikan negara Soviet diatas satu “Weltanschauung”, yaitu Marxistische, Historisch- materialistische Weltanschaung. Nippon mendirikan negara negara dai Nippon di atas satu “Weltanschauung”, yaitu yang dinamakan “Tennoo Koodoo Seishin”. Diatas “Tennoo Koodoo Seishin” inilah negara dai Nippon didirikan. Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia di atas satu “Weltanschauung”, bahkan diatas satu dasar agama, yaitu Islam. Demikian itulah yang diminta oleh paduka tuan Ketua yang mulia: Apakah “Weltanschauung” kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka?

Tuan-tuan sekalian, “Weltanschauung” ini sudah lama harus kita bulatkan di dalam hati kita dan di dalam pikiran kita, sebelum Indonesia Merdeka datang. Idealis-idealis di seluruh dunia bekerja mati-matian untuk mengadakan bermacam-macam “Weltanschauung”, bekerja mati-matian untuk me”realiteitkan””Weltanschauung” mereka itu. Maka oleh karena itu, sebenarnya tidak benar perkataan anggota yang terhormat Abikusno, bila beliau berkata, bahwa banyak sekali negara-negara merdeka didirikan dengan isi seadanya saja, menurut keadaan, Tidak! Sebab misalnya, walaupun menurut perkataan John Reed: “Soviet-Rusia didirikan didalam 10 hari oleh Lenin c.s.”, – John Reed, di dalam kitabnya:”Ten days that shook the world”, “sepuluh hari yang menggoncangkan dunia” -, walaupun Lenin mendirikan Soviet-Rusia di dalam 10 hari, tetapi “Weltanschauung”nya, dan di dalam 10 hari itu hanya sekedar direbut kekuasaan, dan ditempatkan negara baru itu diatas “Weltanschauung” yang sudah ada. Dari 1895 “Weltanschauung” itu telah disusun. Bahkan dalam revolutie 1905, Weltanschauung itu “dicobakan”, di “generale-repetitie-kan”.

Lenin di dalam revolusi tahun 1905 telah mengerjakan apa yang dikatakan oleh beliau sendiri “generale-repetitie” dari pada revolusi tahun 1917. Sudah lama sebelum 1917, “Weltanschaung” itu disedia-sediakan, bahkan diikhtiar-ikhtiarkan. Kemudian, hanya dalam 10 hari, sebagai dikatakan oleh John Reed, hanya dalam 10 hari itulah didirikan negara baru, direbut kekuasaan, ditaruhkan kekuasaan itu di atas “Weltanschauung” yang telah berpuluh-puluh tahun umurnya itu. Tidakkah pula Hitler demikian?

Di dalam tahun 1933 Hitler menaiki singgasana kekuasaan, mendirikan negara Jermania di atas National-sozialistische Weltanschauung. Tetapi kapankah Hitler mulai menyediakan dia punya “Weltanschauung” itu? Bukan di dalam tahun 1933, tetapi di dalam tahun 1921 dan 1922 beliau telah bekerja, kemudian mengikhtiarkan pula, agar supaya Naziisme ini, “Weltanschauung” ini, dapat menjelma dengan dia punya “Munschener Putsch”, tetapi gagal. Di dalam 1933 barulah datang saatnya yang beliau dapat merebut kekuasaan, dan negara diletakkan oleh beliau di atas dasar”Weltanschauung” yang telah dipropagandakan berpuluh-puluh tahun itu.

Maka demikian pula, jika kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka, Paduka tuan ketua, timbullah pertanyaan: Apakah “Weltanschauung” kita, untuk mendirikan negara Indonesia Merdeka diatasnya? Apakah nasional-sosialisme? Apakah historisch-materialisme? Apakah San Min Chu I, sebagai dikatakan doktor Sun Yat Sen?

Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tetapi “Weltanschauung”nya telah dalam tahun 1885, kalau saya tidak salah, dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku “The three people”s principles” San Min Chu I, – Mintsu, Minchuan, Min Sheng, – nasionalisme, demokrasi, sosialisme,- telah digambarkan oleh doktor Sun Yat Sen Weltanschauung itu, tetapi baru dalam tahun 1912 beliau mendirikan negara baru diatas “Weltanschauung” San Min Chu I itu, yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun.

Kita hendak mendirikan negara Indonesia merdeka di atas “Weltanschauung” apa? Nasional-sosialisme-kah, Marxisme-kah, San Min Chu I-kah, atau “Weltanschauung’ apakah?

Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan, – macam-macam – , tetapi alangkah benarnya perkataan dr Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan faham. Kita bersama-sama mencari persatuan philosophischegrondslag, mencari satu “Weltanschauung” yang kita semua setuju. Saya katakan lagi setuju! Yang saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang sdr. Sanoesi setujui, yang sdr. Abikoesno setujui, yang sdr. Lim Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan compromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita ber-sama-sama setujui. Apakah itu? Pertama-tama, saudara-saudara, saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan Indonesia merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan?

Mendirikan negara Indonesia merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?

Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang disini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, – tetapi “semua buat semua”. Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokurutu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918, 25 tahun yang lebih, ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indonesia, ialah dasar kebangsaan.

Prinsip pertama

Kita mendirikan satu negara kebangsaan Indonesia.

Saya minta saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan saudara-saudara Islam lain: maafkanlah saya memakai perkataan “kebangsaan” ini! Sayapun orang Islam. Tetapi saya minta kepada saudara- saudara, janganlah saudara-saudara salah faham jikalau saya katakan bahwa dasar pertama buat Indonesia ialah dasar kebangsaan. Itu bukan berarti satu kebangsaan dalam arti yang sempit, tetapi saya menghendaki satu nasionalestaat, seperti yang saya katakan dalam rapat di Taman Raden Saleh beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat Indonesia bukan berarti staat yang sempit. Sebagai saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo katakan kemarin, maka tuan adalah orang bangsa Indonesia, bapak tuanpun adalah orang Indonesia, nenek tuanpun bangsa Indonesia, datuk-datuk tuan, nenek-moyang tuanpun bangsa Indonesia. Diatas satu kebangsaan Indonesia, dalam arti yang dimaksudkan oleh saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo itulah, kita dasarkan negara Indonesia.

Satu Nationale Staat! Hal ini perlu diterangkan lebih dahulu, meski saya di dalam rapat besar di Taman Raden Saleh sedikit-sedikit telah menerangkannya. Marilah saya uraikan lebih jelas dengan mengambil tempoh sedikit: Apakah yang dinamakan bangsa? Apakah syaratnya bangsa?

Menurut Renan syarat bangsa ialah “kehendak akan bersatu”. Perlu orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu. Ernest Renan menyebut syarat bangsa: “le desir d’etre ensemble”, yaitu kehendak akan bersatu. Menurut definisi Ernest Renan, maka yang menjadi bangsa, yaitu satu gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu.

Kalau kita lihat definisi orang lain, yaitu definisi Otto Bauer, di dalam bukunya “Die Nationalitatenfrage”, disitu ditanyakan: “Was ist eine Nation?” dan jawabnya ialah: “Eine Nation ist eine aus chiksals-gemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft”. Inilah menurut Otto Bauer satu natie. (Bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib).

Tetapi kemarinpun, tatkala, kalau tidak salah, Prof. Soepomo mensitir Ernest Renan, maka anggota yang terhormat Mr. Yamin berkata: “verouderd”, “sudah tua”. Memang tuan-tuan sekalian, definisi Ernest Renan sudah “verouderd”, sudah tua. Definisi Otto Bauer pun sudah tua. Sebab tatkala Otto Bauer mengadakan definisinya itu, tatkala itu belum timbul satu wetenschap baru, satu ilmu baru, yang dinamakan Geopolitik.

Kemarin, kalau tidak salah, saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo, atau Moenandar, mengatakan tentang “Persatuan antara orang dan tempat”. Persatuan antara orang dan tempat, tuan-tuan sekalian, persatuan antara manusia dan tempatnya!

Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan “Gemeinschaft”nya dan perasaan orangnya, “l’ame et desir”. Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu, Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan. Allah s.w.t membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan dimana”kesatuan-kesatuan” disitu. Seorang anak kecilpun, jukalau ia melihat peta dunia, ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau diantara 2 lautan yang besar, lautan Pacific dan lautan Hindia, dan diantara 2 benua, yaitu benua Asia dan benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmaheira, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulau kecil diantaranya, adalah satu kesatuan. Demikian pula tiap-tiap anak kecil dapat melihat pada peta bumi, bahwa pulau-pulau Nippon yang membentang pada pinggir Timur benua Asia sebagai”golfbreker” atau pengadang gelombang lautan Pacific, adalah satu kesatuan.

Anak kecilpun dapat melihat, bahwa tanah India adalah satu kesatuan di Asia Selatan, dibatasi oleh lautan Hindia yang luas dan gunung Himalaya. Seorang anak kecil pula dapat mengatakan, bahwa kepulauan Inggris adalah satu kesatuan. Griekenland atau Yunani dapat ditunjukkan sebagai kesatuan pula, Itu ditaruhkan oleh Allah s.w.t. demikian rupa. Bukan Sparta saja, bukan Athene saja, bukan Macedonia saja, tetapi Sparta plus Athene plus Macedonia plus daerah Yunani yang lain-lain, segenap kepulauan Yunani, adalah satu kesatuan.

Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah-darah kita, tanah air kita? Menurut geopolitik, maka Indonesialah tanah air kita. Indonesia yang bulat, bukan Jawa saja, bukan Sumatera saja, atau Borneo saja, atau Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan uang ditunjuk oleh Allah s.w.t. menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua samudera, itulah tanah air kita!

Maka jikalau saya ingat perhubungan antara orang dan tempat, antara rakyat dan buminya, maka tidak cukuplah definisi yang dikatakan oeh Ernest Renan dan Otto Bauer itu. Tidak cukup “le desir d’etre ensembles”, tidak cukup definisi Otto Bauer “aus schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft” itu. Maaf saudara-saudara, saya mengambil contoh Minangkabau, diantara bangsa di Indonesia, yang paling ada “desir d’entre ensemble”, adalah rakyat Minangkabau, yang banyaknya kira-kira 2,5 milyun.

Rakyat ini merasa dirinya satu keluarga. Tetapi Minangkabau bukan satu kesatuaan, melainkan hanya satu bahagian kecil dari pada satu kesatuan! Penduduk Yogyapun adalah merasa “le desir d”etre ensemble”, tetapi Yogyapun hanya satu bahagian kecil dari pada satu kesatuan. Di Jawa Barat rakyat Pasundan sangat merasakan “le desir d’etre ensemble”, tetapi Sundapun hanya satu bahagian kecil dari pada satu kesatuan.

Pendek kata, bangsa Indonesia, Natie Indonesia, bukanlah sekedar satu golongan orang yang hidup dengan “le desir d’etre ensemble” diatas daerah kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia ialah seluruh manusia-manusia yang, menurut geopolitik yang telah ditentukan oleh s.w.t., tinggal dikesatuannya semua pulau-pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatra sampai ke Irian! Seluruhnya!, karena antara manusia 70.000.000 ini sudah ada “le desir d’etre enemble”, sudah terjadi “Charaktergemeinschaft”! Natie Indonesia, bangsa Indonesia, ummat Indonesia jumlah orangnya adalah 70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi satu, satu, sekali lagi satu!

Kesinilah kita semua harus menuju: mendirikan satu Nationale staat, diatas kesatuan bumi Indonesia dari Ujung Sumatera sampai ke Irian. Saya yakin tidak ada satu golongan diatara tuan-tuan yang tidak mufakat, baik Islam maupun golongan yang dinamakan “golongan kebangsaan”. Kesinilah kita harus menuju semuanya. Saudara-saudara, jangan orang mengira bahwa tiap-tiap negara merdeka adalah satu nationale staat! Bukan Pruisen, bukan Beieren, bukan Sakssen adalah nationale staat, tetapi seluruh Jermanialah satu nationale staat. Bukan bagian kecil-kecil, bukan Venetia, bukan Lombardia, tetapi seluruh Italialah, yaitu seluruh semenanjung di Laut Tengah, yang diutara dibatasi pegunungan Alpen, adalah nationale staat. Bukan Benggala, bukan Punjab, bukan Bihar dan Orissa, tetapi seluruh segi-tiga Indialah nanti harus menjadi nationale staat.

Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah air kita yang merdeka dijaman dahulu, adalah nationale staat. Kita hanya 2 kali mengalami nationale staat, yaitu di jaman Sri Wijaya dan di zaman Majapahit. Di luar dari itu kita tidak mengalami nationale staat. Saya berkata dengan penuh hormat kepada kita punya raja-raja dahulu, saya berkata dengan beribu-ribu hormat kepada Sultan Agung Hanyokrokoesoemo, bahwa Mataram, meskipun merdeka, bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Siliwangi di Pajajaran, saya berkata, bahwa kerajaannya bukan nationale staat. Dengan persaan hormat kepada Prabu Sultan Agung Tirtayasa, berkata, bahwa kerajaannya di Banten, meskipun merdeka, bukan satu nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanoedin di Sulawesi yang telah membentuk kerajaan Bugis, saya berkata, bahwa tanah Bugis yang merdeka itu bukan nationale staat.

Nationale staat hanya Indonesia seluruhnya, yang telah berdiri dijaman Sri Wijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan bersama-sama. Karena itu, jikalau tuan-tuan terima baik, marilah kita mengambil sebagai dasar Negara yang pertama: KebangsaanIndonesia. Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali, atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat. Maaf, Tuan Lim Koen Hian, Tuan tidak mau akan kebangsaan? Di dalam pidato Tuan, waktu ditanya sekali lagi oleh Paduka Tuan fuku-Kaityoo, Tuan menjawab: “Saya tidak mau akan kebangsaan”.

TUAN LIM KOEN HIAN: Bukan begitu. Ada sambungannya lagi.

TUAN SOEKARNO: Kalau begitu, maaf, dan saya mengucapkan terima kasih, karena tuan Lim Koen Hian pun menyetujui dasar kebangsaan. Saya tahu, banyak juga orang-orang Tionghoa klasik yang tidak mau akan dasar kebangsaan, karena mereka memeluk faham kosmopolitisme, yang mengatakan tidak ada kebangsaan, tidak ada bangsa. Bangsa Tionghoa dahulu banyak yang kena penyakit kosmopolitisme, sehingga mereka berkata bahwa tidak ada bangsa Tionghoa, tidak ada bangsa Nippon, tidak ada bangsa India, tidak ada bangsa Arab, tetapi semuanya “menschheid”, “peri kemanusiaan”. Tetapi Dr. Sun Yat Sen bangkit, memberi pengajaran kepada rakyat Tionghoa, bahwa a d a kebangsaan Tionghoa! Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S. diSurabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, – katanya: jangan berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa kemanusiaan sedunia, jangan mempunyai rasa kebangsan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun 17. Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, – ialah Dr SunYat Sen! Di dalam tulisannya “San Min Chu I” atau “The Three People’s Principles”, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh “The Three People”s Principles” itu.

Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah, bahwa Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat-sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, – sampai masuk kelobang kubur.

Prinsip kedua

Saudara-saudara. Tetapi …….. tetapi ……….. memang prinsip kebangsaan ini ada bahayanya! Bahayanya ialah mungkin orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme, sehingga berfaham “Indonesia uber Alles”. Inilah bahayanya! Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa yang satu, mempunyai bahasa yang satu. Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bahagian kecil saja dari pada dunia! Ingatlah akan hal ini!

Gandhi berkata: “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan “My nationalism is humanity”. Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropah, yang mengatakan”Deutschland uber Alles”, tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya, bangsanya minulyo, berambut jagung dan bermata biru, “bangsa Aria”, yang dianggapnya tertinggi diatas dunia, sedang bangsa lain-lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas azas demikian, Tuan-tuan, jangan berkata, bahwa bangsa Indonesialah yang terbagus dan termulya, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia.

Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa. Justru inilah prinsip saya yang kedua. Inilah filosofisch principe yang nomor dua, yang saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang boleh saya namakan “internasionalime”. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme, bukanlah saya bermaksud kosmopolitisme, yang tidak mau adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika, dan lain-lainnya. Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme. Jadi, dua hal ini, saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2, yang pertama-tama saya usulkan kepada tuan-tuan sekalian, adalah bergandengan erat satu sama lain.

Prinsip ketiga

Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua”, “satu buat semua, semua buat satu”. Saya yakin syarat yang mutlak untuk kuatnya negara In-donesia ialah permusyawaratan perwakilan.

Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, sayapun, adalah orang Islam, — maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna, — tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam.

Dan hati Islam Bung karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat.

Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Disinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar-supaya sebagian yang terbesar dari pada kursi-kursi badan perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam disini agama yang hidup berkobar-kobar didalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan Rakyat 100 orang anggautanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula. Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar h i d u p di dalam jiwa rakyat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam. Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, hiduplah Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya diatas bibirsaja. Kita berkata, 90% dari pada kita beragama Islam, tetapi lihatlah didalam sidang ini berapa % yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada saudara-saudara sekalian, baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam, setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan. Dalam perwakilan nanti ada perjoangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup, jikalau di dalam badan-perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candradimuka, kalau tidak ada perjoangan faham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjoangan selamanya ada. Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat! Di dalam perwakilan rakyat saudara-saudara islam dan saudara-saudara kristen bekerjalah sehebat- hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar suapaya sebagian besar dari pada utusan-utusan yang masuk badan perwakilan Indonesia ialah orang kristen, itu adil, – fair play!. Tidak ada satu negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjoangan di dalamnya. Jangan kira di Turki tidak ada perjoangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah subhanahuwa Ta’ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah, supaya keluar dari padanya beras, dan beras akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah saudara-saudara, prinsip nomor 3, yaitu prinsip permusyawaratan

Prinsip keempat

Priinsip No. 4 sekarang saya usulkan, Saya di dalam 3 hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu prinsip kesejahteraan , prinsip: tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka. Saya katakan tadi: prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: nationalism, democracy, sosialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau Indonesia Merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyat sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang-pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, saudara-saudara? Jangan saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negara-negara Eropah adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire democracy. Tetapi tidakkah diEropah justru kaum kapitalis merajalela?

Di Amerika ada suatu badan perwakilan rakyat, dan tidakkah di Amerika kaum kapitalis merajalela? Tidakkah di seluruh benua Barat kaum kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat! Tak lain tak bukan sebabnya, ialah oleh karena badan- badan perwakilan rakyat yang diadakan disana itu, sekedar menurut resepnya Franche Revolutie. Tak lain tak bukan adalah yang dinamakan democratie disana itu hanyalah politie-kedemocratie saja; semata-mata tidak ada sociale rechtvaardigheid, — tak ada keadilan sosial, tidak ada ekonomische democratie sama sekali.

Saudara-saudara, saya ingat akan kalimat seorang pemimpin Perancis, Jean Jaures, yang menggambarkan politieke democratie. “Di dalam Parlementaire Democratie, kata Jean Jaures, di dalam Parlementaire Democratie, tiap-tiap orang mempunyai hak sama. Hak politiek yang sama, tiap orang boleh memilih, tiap-tiap orang boleh masuk di dalam parlement. Tetapi adakah Sociale rechtvaardigheid, adakah kenyataan kesejahteraan di kalangan rakyat?” Maka oleh karena itu Jean Jaures berkata lagi: “Wakil kaum buruh yang mempunyai hak politiek itu, di dalam Parlement dapat menjatuhkan minister. Ia seperti Raja! Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja, di dalam paberik, – sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilempar keluar ke jalan raya, dibikin werkloos, tidak dapat makan suatu apa”.

Adakah keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki?

Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek-ecomische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimakksud dengan faham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia-baru yang di dalamnya a d a keadilan di bawah pimpinan Ratu Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politiek, saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politieke democratie saja, tetapi badan yang bersama dengan ma-syarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid.

Kita akan bicarakan hal-hal ini bersama-sama, saudara-saudara, di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal! Juga di dalam urusan kepada negara, saya terus terang, saya tidak akan memilih monarchie. Apa sebab? Oleh karena monarchie “vooronderstelt erfelijkheid”, – turun-temurun. Saya seorang Islam, saya demokrat karena saya orang Islam, saya meng-hendaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maupun Amirul mu’minin, harus dipilih oleh Rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Jikalau pada suatu hari Ki Bagus Hadikoesoemo misalnya, menjadi kepala negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, jangan anaknya Ki Hadikoesoemo dengan sendirinya, dengan automatis menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu saya tidak mufakat kepada prinsip monarchie itu.

Prinsip kelima

apakah prinsip ke-5?

Saya telah mengemukakan 4 prinsip:

Kebangsaan Indonesia.

    Internasionalisme, – atau peri-kemanusiaan.

    Mufakat, – atau demukrasi.

    Kesejahteraan sosial.

Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme-agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.

Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

Disinilah, dalam pangkuan azas yang kelima inilah, saudara- saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan bertuhan pula!

Ingatlah, prinsip ketiga, permufakatan, perwakilan, disitulah tempatnya kita mempropagandakan idee kita masing-masing dengan cara yang berkebudayaan!

Pancasila

“Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat disini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai Panca Inderia. Apa lagi yang lima bilangannya?

(Seorang yang hadir: Pendawa lima).

Pendawapun lima oranya. Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya.

Namanya bukan Panca Dharma, tetapi – saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah Panca Sila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi. bilangan lima itu?

Saya boleh peras, sehingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme, kebangsaan dan peri-kemanusiaan, saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan socio-nationalisme.

Dan demokrasi yang bukan demokrasi barat, tetapi politiek- economische demokratie, yaitu politieke demokrasi dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan, saya peraskan pula menjadi satu: Inilah yang dulu saya namakan socio-democratie. Tinggal lagi ketuhanan yang menghormati satu sama lain. Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: socio-nationalisme, socio-demokratie, dan ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini.

Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?

Gotong royong

Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus men-dukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, – semua buat semua ! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!

“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama ! Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!

Prinsip Gotong Royong diatara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.

Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Eka Sila. Tetapi terserah kepada tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: trisila, ekasila ataukah pancasila? Is i n y a telah saya katakan kepada saudara-saudara semuanya. Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu. Tetapi jangan lupa, kita hidup didalam masa peperangan, saudara- saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan negara Indonesia, – di dalam gunturnya peperangan! Bahkan saya mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah Subhanahu wata’ala, bahwa kita mendirikan negara Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan dan di dalam api peperangan. Timbullah Indonesia Merdeka, Indonesia yang gemblengan, Indonesia Merdeka yang digembleng dalam api peperangan, dan Indonesia Merdeka yang demikian itu adalah negara Indonesia yang kuat, bukan negara Indonesia yang lambat laun menjadi bubur.

Berhubung dengan itu, sebagai yang diusulkan oleh beberapa pembicara-pembicara tadi, barangkali perlu diadakan noodmaatregel, peraturan bersifat sementara. Tetapi dasarnya, isinya Indonesia Merdeka yang kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Panca Sila. Sebagai dikatakan tadi, saudara-saudara, itulah harus Weltanschauung kita. Entah saudara- saudara mufakatinya atau tidak, tetapi saya berjoang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu. Untuk membentuk nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia; untuk kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam peri-kemanusiaan; untuk permufakatan; untuk sociale rechtvaardigheid; untuk ke-Tuhananan. Panca Sila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh-puluh tahun. Tetapi, saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah saudara-saudara. Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf- insyafnya, bahwa tidak satu Weltaschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteit dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan, menjadi realiteit, jika tidak dengan perjoangan!

Janganpun Weltanschauung yang diadakan oleh manusia, jangan pun yang diadakan Hitler, oleh Stalin, oleh Lenin, oleh Sun Yat Sen! “De Mensch”, — manusia! –, harus perjoangkan itu. Zonder perjoangan itu tidaklah ia akan menjadi realiteit! Leninisme tidak bisa menjadi realiteit zonder perjoangan seluruh rakyat Rusia, San Min Chu I tidak dapat menjadi kenyataan zonder perjoangan bangsa Tionghoa, saudara-saudara! Tidak! Bahkan saya berkata lebih lagi dari itu: zonder perjoangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak ada satu cita-cita agama, yang dapat menjadi realiteit. Janganpun buatan manusia, sedangkan perintah Tuhan yang tertulis di dalam kitab Qur’an, zwart op wit (tertulis di atas kertas), tidak dapat menjelma menjadi realiteit zonder perjoangan manusia yang dinamakan ummat Islam. Begitu pula perkataan-perkataan yang tertulis didalam kitab Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya tidak dapat menjelma zonder perjoangan ummat Kristen.

Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Panca Sila yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationali- teit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup diatas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan ke-Tuhanan yang luas dan sempurna, –janganlah lupa akan syarat untuk menyeleng-garakannya, ialah perjoangan, perjoangan, dan sekali lagi pejoangan. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjoangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di-dalam Indonesia Merdeka itu perjoangan kita harus berjalan t e r u s, hanya lain sifatnya dengan perjoangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita, bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu padu, berjoang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Panca Sila. Dan terutama di dalam zaman peperangan ini, yakinlah, insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu saudara-saudara, bawa Indonesia Merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak mengambil risiko, — tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudera yang sedalam-dalamnya.

Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekad-mati-matian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai keakhir jaman! Kemerdekaan hanya- lah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad “Merdeka, — merdeka atau mati”!

PIAGAM PARTAI PDI PERJUANGAN

Piagam PDI Perjuangan

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa,

Bahwa sesungguhnya cita-cita luhur untuk membangun dan mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, berkeadilan, berkemakmuran, berkeadaban, dan berketuhanan sebagai mana tarmaktub di dalam pembukaan UUD 1945 adalah merupakan manifestasi ideal dari amanat penderitaan rakyat, yang merupakan jiwa sekaligus arah dari semua pergerakan rakyat, yang akhirnya telah membawa rakyat dan mengantar bangsa Indonesia ke arah kemerdekaannya. Cita-cita tersebut juga menjadi roh gerakan reformasi yang telah berhasil mengakhiri kekuasaan otoriter (orde baru), serta akan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah perkembangan peradaban bangsa Indonesia.

Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang bebas dari segala bentuk penjajahan, baik antarmanusia ataupun antarbangsa, baik sebagai objek maupun sebagai subjek. Indonesia yang berdaulat adalah Indonesia memiliki pemerintahan negara yang mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Indonesia yang bersatu adalah Indonesia yang ditandai oleh tingginya derajat integrasi bangsa, baik berupa integrasi teritorial maupun politik, dan tingginya persatuan sosial antarberbagai komponen bangsa yang majemuk ini. Indonesia yang berkemakmuran adalah Indonesia yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan material warganya yang sesuai dengan standar yang layak bagi kemanusiaan. Indonesia yang berkeadilan adalah Indonesia yang ditandai oleh sempitnya jurang kesenjangan sosial dan kesenjangan antardaerah. Indonesia yang berkeadaban adalah Indonesia yang ditandai oleh tingginya derajat moralitas dan etika dalam masyarakat dan di antara penyelenggara kekuasaan, serta Indonesia yang ditandai oleh minimnya penggunaan kekerasan dalam proses sosial, ekonomi, dan politiknya. Indonesia yang berketuhanan adalah Indonesia yang menghargai keberagaman dan toleransi beragama dalam semangat Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sebagai cita-cita bersama, perwujudan Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil, makmur, beradab, dan berketuhanan adalah hak sekaligus tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu menuntut keterlibatan semua kekuatan bangsa, baik secara individual maupun yang teroganisir dalam organisasi rakyat yang demokratis serta terbuka bagi semua warga negara, tanpa membedakan suku, agama, gender, keturunan dan kedudukan sosial.

Didorong oleh kesadaran akan tanggung jawab mewujudkan cita-cita luhur tersebut, serta guna memenuhi tuntutan perkembangan zaman yang ada, maka PNI, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), dan Murba, pada tanggal 9 Maret 1970 membentuk Kelompok Demokrasi Pembangunan, yang kemudian dikukuhkan dengan pernyataan bersama kelima partai politik tersebut pada tanggal 28 Oktober 1971. Dan akhirnya pada tanggal 10 Januari 1973 melakukan langkah strategis memfusikan diri menjadi satu wadah perjuangan politik rakyat berdasarkan Pancasila dengan nama Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pada penutupan Kongres Ke-2 PDI di Jakarta tanggal 17 Januari 1981 kelima partai yang berfusi tersebut menegaskan bahwa perwujudan fusi telah paripurna, serta menyatakan pengakhiran eksistensi masing-masing. Dalam perkembangan selanjutnya dan didorong oleh tuntutan perkembangan situasi dan kondisi politik nasional yang terjadi, serta berdasarkan hasil keputusan Kongres Ke-5 Partai Demokrasi Indonesia di Denpasar Bali, maka pada tanggal 1 Februari 1999, PDI telah mengubah namanya menjadi PDI Perjuangan, dengan asas Pancasila dan bercirikan Kebangsaan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial.

Untuk mencapai statusnya sebagai bagian prinsipil dari perjuangan rakyat mewujudkan cita-cita itu, PDI Perjuangan telah berketetapan menjadikan dirinya menjadi partai modern yang mempertahankan jati dirinya sebagai Partai Kerakyatan dengan tetap berpegang teguh pada prinsip berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Sebagai partai yang mempunyai roh kedaulatan rakyat, PDI Perjuangan dicirikan oleh adanya pengakuan dan penghargaan terhadap demokrasi kebangsaan dan keadilan sosial. Demokrasi menempatkan kekuasaan tertinggi di tangan rakyat yang diwujudkan melalui kedaulatan anggota partai dan diselenggarakan sepenuhnya melalui Kongres Partai. Kebangsaan menempatkan prinsip “kewarganegaraan” yang mengakui adanya kesamaan hak dan kewajiban warga negara tanpa kecuali sebagai dasar satu-satunya dalam pengelolaan partai. Bagi PDI Perjuangan prinsip ini menemukan bentuk kongkretnya lewat sifatnya sebagai partai terbuka yang menempatkan kemajemukan sebagai kekayaan dan rahmat Tuhan. Keadilan sosial mengungkapkan komitmen PDI Perjuangan untuk senantiasa mengarahkan semua aktivitas bagi kepentingan rakyat banyak.

Cita-cita Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil, dan makmur, serta beradab dan berketuhanan menuntut Partai politik modern yang mempunyai roh kedaulatan rakyat, dan juga menuntut komitmen, moralitas, dedikasi, loyalitas, dan militansi yang tinggi dari para penyelenggaranya.

Oleh karena itu, arah politik dan program PDI Perjuangan pertama-tama adalah menjadikan dirinya sebagai kekuatan perekat bangsa yang menjamin tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan segala cita-cita luhurnya serta mewujudkan penyelenggaraan negara yang bertanggungjawab, berkeadilan, bersih, dan berwibawa. Penuntasan praktek KKN dan berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang diikuti oleh perjuangan untuk mewujudkan adanya supremasi dan tegaknya hukum, pembagian, dan pembatasan kekuasaan yang memungkinkan berjalannya prinsip keseimbangan dan kesetaraan, dan berjalannya pengawasan politik dan sosial merupakan agenda pokok PDI Perjuangan yang harus diwujudkan oleh setiap kader dan anggota PDI Perjuangan.

PDI Perjuangan juga berketetapan untuk mewujudkan prinsip desentralisasi kekuasaan yang sesungguhnya melalui pemberian otonomi yang luas kepada daerah-daerah. Otonomi daerah melibatkan pengalihan kekuasaan ekonomi dari pusat kepada daerah-daerah yang memungkinkan bisa menemukan mekanismenya sendiri dalam pengelolaan bidang bidang ekonomi, sosial, dan budaya.